“Aku loh ini….”

“Aku loh ini….”

"Aku Loh Ini...."

(Liputan Paideia - Wawancara dengan Gerakan Kemanusiaan Indonesia - GKI)

Bukan karena salah cetak atau penulis tim Paidea yang salah menaruh judul di atas. Judul “Aku loh ini…” setelah ditarik garis koreksi, akan berubah artinya menjadi “Bukan aku loh ini…”. Kata-kata tersebut membekas penuh arti dari hasil wawancara tim Paideia dengan salah satu tim GKI. Bukan GKI (baca: Gereja Kristen Indonesia) seperti yang telah kita ketahui selama ini, tapi Gerakan Kemanusian Indonesia (GKI). Loh, apakah itu? Siapa saja di dalamnya? Dan, apa saja yang dilakukan? 

Tim Paideia berkesempatan mewawancarai Bapak Tony Muljadinata. Beliau merupakan salah satu aktivis di GKI yang telah mengkoordinasikan banyak pelayanan GKI di beberapa tempat. Bapak Tony Muljadinata sebelumnya menjabat sebagai Ketua Yayasan Kasih Abadi Untuk Mentawai (KAUM). Saat ini, beliau juga menjadi anggota bidang PPSM BPMSW GKI SW JABAR dan berjemaat di GKI Wahid Hasyim. Di dalam GKI Sinode Wilayah Jabar, PPSM dikenal sebagai Pusat Pelayanan Sosial Masyarakat yang mengkoordinasikan kegiatan pelayanan kepada masyarakat dari Gereja Kristen Indonesia. Beliau mendampingi tim GKI (Gerakan Kemanusiaan Indonesia), sebagai ketua KAUM sebelum masuk PPSM, terlibat dalam badan pelayanan untuk Papua, dan juga menjadi pendamping di Yayasan Tabitha. Mari kita simak kisahnya.

 

Apakah GKI (Gerakan Kemanusiaan Indonesia)?

Gerakan Kemanusiaan Indonesia merupakan bagian dari bidang kesaksian dan pelayanan Sinode Wilayah yang memiliki wujud kepedulian dan sikap cepat dan tanggap bencana. Pada awal mulanya, sinode tiap wilayah memiliki tim kesaksian dan pelayanan masing-masing. Kalau di Sinode Wilayah Jawa Barat memiliki Gerakan Kemanusiaan Indonesia (GKI), di Sinode Wilayah Jawa Tengah ada Derap Kemanusiaan dan Pendamaian (DKP), sementara di Sinode Wilayah Jawa Timur memiliki tim kespelnya sendiri. Walaupun nama tim kesaksian dan pelayanan dari tiap-tiap sinode itu berbeda, ketika berjalan bersama, secara universal akan disebut menjadi Gerakan Kemanusiaan Indonesia. 

Oke. Gerakan Kemanusiaan Indonesia ini merupakan kegiatan kespel dari Sinode Wilayah. Mungkin masih terdengar asing di telinga kita karena biasanya jika terdapat bencana, kita mendengar bahwa ada dari gereja A atau gereja B ikut membantu. Ada juga Lembaga X dan Y yang ikut membantu. Namun, jarang sekali mendengar bahwa ada tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia yang turut membantu. Jadi, visi misinya itu sesuai dengan visi misi Gereja Kristen Indonesia. Kalau disederkanakan, visinya adalah menjadi mitra Allah yang menjadi saluran berkat untuk sesama kita.

Adapun untuk misinya ada 3, yaitu: 

pertama, mengupayakan kasih persaudaraan sebagai tubuh Kristus. 

Kedua, meningkatkan kerja sama oikumene dengan gereja-gereja lainnya maupun lintas iman. Intinya, tidak menunjukkan “Ini aku loh ...” dengan menunjukkan identitas GKI di mana-mana pada saat pelaksanaannya. Sebaliknya, tim GKI berusaha mengoptimalkan gerakan-gerakan yang telah ada dan memberikan dampak, khususnya bagi gereja-gereja lainnya. 

Ketiga dan yang utama, meningkatkan pertumbuhan iman melalui pembelajaran hidup yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

KAUM – KASIH ABADI UNTUK MENTAWAI

Sedikit mengulik nama Gerakan Kemanusiaan Indonesia, nama itu berasal dari alm. Pdt. Kuntadi. Awal mula dari Desember 2004, pada saat tsunami Aceh, tim GKI berangkat ke Aceh. Pada saat itu, dirasa kurang pas untuk mengatasnamakan gereja di Aceh dan kegiatan ini bersifat skala nasional. Lalu, disebutlah Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Loh, kenapa tidak langsung dengan mengatasnamakan gereja? Tim GKI masuk dengan nama universal Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Meskipun tim GKI tidak memperkenalkan diri berasal dari gereja, pada akhirnya mereka tahu bahwa tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia ini berasal dari Gereja Kristen Indonesia.

Kasih Abadi Untuk Mentawai (KAUM) ini merupakan wujud nyata tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia yang masih terus berlanjut hingga sekarang. Berawal dari 25 Oktober 2010, tim GKI pergi ke daerah kepulauan Mentawai untuk menolong para korban pasca-tsunami. Dalam perjalanannya, banyak badan pelayanan yang kembali pulang setelah beberapa saat menolong. Akan tetapi, tim GKI berpikir dan tergerak untuk membantu masyarakat di sana, terutama anak-anak, tentang bagaimana mereka dapat hidup setelah ditinggalkan oleh orang tua mereka.

Pada saat itu, karena tidak dapat “berjalan sendiri” dalam menjalankan inisiatif ini, tim GKI mengajak tim BPK Penabur Jakarta, YPK Ketapang, YPK Bina Siswa, dan Yayasan Setia Mentawai bersatu untuk turut membantu tim GKI. Tim GKI diberikan lahan oleh Gereja Kristen Protestan Mentawai untuk mendirikan panti asuhan agar dapat dipergunakan oleh sekitar 60 anak korban tsunami. Yayasan Setia Mentawai juga memiliki sekolah SMA di Mentawai yang kemudian diserahkan kepada tim Kaum untuk mengelolanya. Karena dilakukan secara bersama dan dirasa memakai nama gerakan kemanusiaan kurang baik, dibentuklah nama Kasih Abadi Untuk Mentawai (KAUM). 

Pada awalnya, target program tim KAUM hanyalah 20 tahun, terhitung dari umur anak terkecil. Diharapkan, 20 tahun merupakan periode yang cukup untuk membekali anak-anak tersebut hingga mencapai tingkat SMA. Mereka pun akan dibekali keterampilan di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, dan sebagainya. Namun, dalam perjalanannya, banyak gereja-gereja dan pihak lainnya terus merasakan kebutuhan di Mentawai sehingga kegiatan KAUM masih terus berjalan sampai sekarang.

Kemudian, tim GKI berinisiatif untuk melanjutkan studi dari anak-anak Mentawai ke jenjang yang lebih tinggi dari SMA. Hasilnya, sudah ada satu anak yang menjadi calon pendeta di GKPM yang saat ini belajar di STT Cipanas. Satu anak sudah lulus dari sekolah perawatan Cikini dan saat ini bekerja di RS Mayapada, menjadi nakes Covid-19. Hal ini membuktikan bagaimana pelayanan GKI telah banyak membuahkan hasil melalui kegiatan pelayanannya yang berkelanjutan.

GKI Perumahan Citra 1 pun ternyata juga ikut terlibat membantu satu anak untuk mengikuti program studi lanjut, namanya Noverdi. Dari kecil, dia sudah bercita-cita menjadi pendeta dan sekarang telah lulus dari STT SAPPI.

Sebenarnya, banyak loh wujud nyata dari tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia. Namun, memang tak bisa dipungkiri oleh Bapak Tony bahwa tim GKI masih belum memiliki tim dokumentasi ataupun media yang memadai sehingga Gerakan Kemanusiaan Indonesia belum memiliki website atau dokumentasi yang dapat dilihat melalui internet. Secara struktural, tim Gerakan Kemanusiaan Indonesia memang hanya terdiri dari tiga orang. Akan tetapi, tim sebenarnya adalah kita semua jemaat Gereja Kristen Indonesia yang bersama-sama mempunyai misi untuk membagi kasih Tuhan kepada orang-orang banyak supaya nama Tuhan Yesus terus dimuliakan. 

Mari kita terus saling membantu untuk menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita, termasuk kegiatan-kegiatan Gerakan Kemanusiaan Indonesia di kemudian hari yang membutuhkan partisipasi dari kita semua, baik dana, upaya, pemikiran, maupun dukungan doa dari kita semua. 

Tuhan Yesus memberkati.

Berita Terkait