KEBANGKITAN NASIONAL & TOLERANSI
Kenapa GKI perlu mengembangkan toleransi?
Tulisan ini merefleksikan peristiwa kebangkitan nasional yang dasar historisnya merujuk pada berdirinya Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Kita akan merenungkan hal ini: pelajaran apa yang bisa diambil dari kelahiran Boedi Oetomo? Kita akan memakai refleksi tersebut sebagai kacamata untuk melihat mengapa toleransi perlu dikembangkan oleh rakyat Indonesia, termasuk di dalamnya gereja kita.
Indonesia sebagai imagined community(1)
Sebelum 1945, tidak ada Indonesia sebagai sebuah nation state (negara bangsa). Sebelum kemerdekaan, Indonesia merujuk pada lokasi geografis nusantara yang multietnik. Tiap etnik tidak homogen. Tiap kelompok etnik memiliki kekuatan politik yang berbeda-beda, dalam bentuk kerajaan. Di Jawa, misalnya, ada kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat, Singasari di Kediri, Jawa Timur dan Pajang di Demak, Jawa Tengah. Di Sumatera juga. Ada raja-raja lokal yang memiliki teritori dan kekuasaannya sendiri. Bahkan, di internal suku yang sama, terdapat raja-raja lokal yang punya kekuasaan berbeda. Mereka bisa hidup damai dan berdampingan, walaupun mereka bisa juga bermusuhan.
Kolonialisme yang dihadapi kerajaan-kerajaan di nusantara menyadarkan rakyat akan penindasan. Kenyataan tersebut membangkitkan kesadaran akan perlunya keadilan, kebebasan, dan kemerdekaan. Perlawanan dari Martha Christina Tiahahu, Sisingamangaraja, Diponegoro, adalah perlawanan dari masyarakat di daerah terhadap kolonialisme tanpa dipengaruhi gagasan tentang Indonesia. Mereka berjuang hanya untuk daerahnya, bukan untuk seluruh wilayah nusantara.
Gerakan Budi Utomo (1908-1918), yang ditetapkan sebagai cikal bakal kebangkitan nasional oleh Soekarno pada 20 Mei 1948, merupakan respons para cendekiawan Jawa lulusan sekolah STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen, Sekolah pendidikan dokter Hindia), terhadap situasi ketidakadilan yang disebabkan kolonialisme. Pada saat terbentuknya, gerakan ini pun masih bersifat lokal di pulau Jawa.
(STOVIA di masa sekarang - backpackerjakarta)
Awalnya, pemerintah kolonial Belanda mendirikan STOVIA karena khawatir akan kurangnya tenaga kesehatan di daerah jajahan, sementara banyak penyakit yang diderita rakyat. Pada mulanya, mereka yang dapat bersekolah di situ adalah keluarga priyayi tinggi Jawa yang punya kedekatan dengan Bupati atau pemerintah kolonial.
Pada 1907, Dr. Wahidin Sudirohusodo melakukan kunjungan ke sekolah almamaternya, STOVIA, dan bertemu dengan para mahasiswa STOVIA. Ia mengusulkan pembentukan organisasi yang dapat mengangkat derajat rakyat jajahan melalui pendidikan. Gagasan ini kemudian semakin matang. Ooetomo dan teman-temannya kemudian membentuk organisasi Boedi Oetomo di Jakarta. Awalnya, gerakan ini tidak bersifat politik melainkan organisasai sosial. Tujuannya untuk mendorong semakin banyaknya priyayi dari kelas rendah bisa mendapatkan pendidikan. Dalam perjalanannya, Budi Utomo menjadi gerakan politik yang kritis terhadap pemerintah kolonial. Gerakan Budi Utomo juga memiliki faksi yang radikal, yakni mereka menolak kerja sama dengan pemerintah kolonial.
Gerakan kritis terhadap pemerintah kolonial bukan hanya hadir melalui Budi Utomo. Gerakan tersebut juga hadir melalui beberapa organisasi lain, seperti Sarekat Islam yang berusaha menandingi dominasi ekonomi orang Tionghoa; Indische Partij yang merupakan partai politik yang mengkritisi perlakuan tidak adil dan diskriminatif dari orang Belanda kepada penduduk jajahan; Jamiat Khair, yaitu organisasi pendidikan yang awalnya untuk orang Arab, tetapi terbuka untuk masyarakat Muslim dari mana pun.
Gerakan-gerakan tersebut mencapai salah satu titik kulminasi melalui Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Saat itu, sebagian dari pemuda Indonesia dengan ikatan primordial atau kelompoknya (Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, dll) menyatakan ikrar kesatuan sebagai bagian dari identitas yang lebih besar, yaitu Indonesia, daerah jajahan Belanda.
(Kongres Sumpah Pemuda I - USSfeed)
Gerakan Budi Utomo pertama kali dilihat sebagai momentum kebangkitan nasional pada 1948, oleh Presiden Soekarno di dalam pidato di Yogyakarta. Saat itu, terjadi instabilitas politik karena jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin yang digantikan oleh Mohammad Hatta sebagai Perdana Menteri. Ketegangan juga muncul di kalangan meliter (TNI), karena perjanjian Renville (3) memaksa pasukan Siliwangi dari Jawa Barat hijrah ke Solo. Dalam rangka membangun persatuan dan stabilitas politik, Soekarno membuat pawai kekuatan militer bersama pasukan Siliwangi dari Jawa Barat dan menetapkannya sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Penetapan tersebut merupakan narasi yang diperlukan dalam rangka mempersatukan dan membangun nasionalisme rakyat.
Hal penting apa yang bisa dipelajari dari peristiwa Budi Utomo dan penetapannya menjadi Hari Kebangkitan Nasional? Pertama, nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang sudah terbentuk dari “sono”-nya. Nasionalisme Indonesia terbentuk lewat proses panjang sebagai respons terhadap kolonialisme. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat plural karena terdiri dari 1340 suku bangsa, enam agama resmi, dan ratusan agama lokal. Nasionalismenya tidak terbentuk dari awal sebab tidak ada pengikat primordial yang sama, yang dapat mempersatukan semua suku bangsa di dalamnya.
Nasionalisme di Indonesia ‒mengutip Ben Anderson‒ adalah nasionalisme yang dibayangkan seakan-akan satu masyarakat (imagined community). Imaginasi nasionalisme ini muncul pada masa lalu karena ada musuh bersama, yaitu kolonialisme. Ketika tidak ada musuh bersama, tiap suku bangsa di Indonesia bisa jatuh pada sikap etnosentris: memikirkan kelompoknya dan abai membangun persatuan.
Karena itulah, kedua, nasionalisme Indonesia merupakan proyek yang perlu dibangun untuk saat ini dan masa depan (4). Nasionalisme harus menjadi proyek bersama yang tidak pernah selesai. Generasi yang lahir dan merasakan kejamnya pemerintah kolonial Belanda pasti memiliki nasionalisme yang berbeda dengan generasi milenial atau Alpha. Untuk dua generasi yang disebutkan terakhir ini, mereka bukan saja tidak mengenal musuh bersama dalam diri kolonialisme, tetapi juga hidup sebagai warga negara dunia (kosmopolitan) karena tumbuh di tengah-tengah dunia digital yang borderless. Mereka mungkin tidak menganggap penting dan relevan untuk membangun nasionalisme.
Ketiga, tantangan untuk mewujudkan nasionalisme bisa dilakukan dengan upaya sengaja mengingat narasi perjuangan bangsa dilakukan oleh semua kelompok, bukan satu kelompok saja. Gerakan Budi Utomo, sebagai tonggak lahirnya kebangkitan nasional, tidak boleh mengabaikan gerakan-gerakan lain seperti Indische partij, Sarekat Dagang Islam/Sarekat Islam atau bahkan kelompok etnik lain di Indonesia yang sama-sama berjuang (5), termasuk dalam hal ini kelompok yang secara sosiologis kecil, seperti Tionghoa atau Kristen. Kesadaran ini menolong kita yang hidup saat ini untuk dapat menerima keberadaan kelompok yang berbeda sebab tiap kelompok sama-sama berjuang dan berjasa dalam memerdekakan dan membangun Indonesia.
Dalam kesadaran itulah rakyat Indonesia perlu mengembangkan dan menghidupi toleransi. Dengan heterogenitas rakyatnya yang tidak memiliki basis nasionalisme, Indonesia akan kuat jika (dan hanya jika) rakyatnya toleran: dapat melihat perbedaan sebagai anugerah dan kekuataan dari Tuhan.
(Toleransi Beragama-RuangGuru)
Belajar menjadi manusia bagi sesama
Nasionalisme Indonesia yang dibentuk karena kesamaan nasib untuk melawan musuh bersama (baca: kolonialisme) mudah hancur. Kehancurannya akan semakin cepat dan parah jika primordialisme dan hasrat mementingkan kelompok sendiri dibiarkan mendominasi kehidupan berbangsa. Soekarno pernah mengingatkan bahaya tersebut ketika berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.” Ungkapan Soekarno benar. Bangsa kita berkali-kali melawan bangsa sendiri, yaitu orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak mau peduli dengan kelompok di luar dirinya. Lebih berbahaya lagi, di antara mereka ada yang membenci orang yang berada di luar kelompoknya.
Gereja juga tidak terlepas dari kecenderungan tersebut. Ada gereja yang hanya memperhatikan kepentingan sendiri. Ada gereja yang bahkan membenci sesama anak bangsa. Ketika gereja hanya memikirkan kepentingannya sendiri, gereja sedang menghancurkan persatuan bangsa. Ketika gereja membenci kelompok di luar dirinya, gereja sedang meruntuhkan fondasi kehidupan bersama.
Apa yang bisa gereja lakukan agar toleransi berkembang sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa yang bangkit dan besar? Kita perlu meneladani orang Samaria yang murah hati (Luk. 10: 25-37). Walaupun dianggap sebagai orang kafir oleh orang Yahudi (karena sudah tidak lagi memiliki kemurnian darah Yahudi), orang Samaria ini mampu menjadi sesama untuk orang yang menderita.
Gereja mesti menghidupi semangat orang Samaria yang murah hati. Secara sosial, gereja kadang dianggap kafir dan direndahkan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang intoleran. Dalam keadaan seperti itu, kita dipanggil untuk menjadi seperti orang Samaria: menjadi sesama yang mengasihi orang Indonesia, khususnya mereka yang menderita karena berbagai macam sebab.
(The Good Samaritan - exegeticaltools)
Orang Kristen perlu mengembangkan semangat dan tindakan peacefull proexistence, yaitu sikap proaktif dalam mengupayakan perdamaian di tengah-tengah tantangan intoleransi dan permusuhan. Dengan mengatakan ini, bukan berarti kita kompromi dengan identitas kita. Kita adalah pengikut Kristus dan tidak boleh menyembunyikan atau mengompromikan identitas kita dengan dalih toleransi. Kita perlu toleran bukan karena ingin mendapat perlindungan. Kita bersikap demikian karena kita sadar, itulah panggilan ganda kita sebagai jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI). Kita dipanggil untuk bersungguh-sungguh menjadi Kristen dan menjadi Indonesia. Upaya kita membangun kekristenan perlu sejalan dengan upaya membangun Indonesia. Melalui upaya tersebut, kita sedang menghidupi identitas GKI yang seratus persen Kristen dan seratus persen Indonesia.
______________

