MENABUR BERSAMA ALLAH

MENABUR BERSAMA ALLAH

Akhir-akhir ini, perbincangan seputar istilah Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), School from Home (SFH), online learning, home learning, atau apapun istilah-istilahnya cenderung semakin marak. Subjek-subjek di dalamnya tentulah tak lepas dari yang namanya siswa, orang tua, sekolah dan guru, serta pemerintah. Dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, masalah pendidikan menjadi polemik yang terus menjadi sorotan. Tidak hanya di Indonesia, melainkan hampir di seluruh dunia. Ketika sekolah harus ditutup, kita semua gamang menghadapinya. Guru bingung mempersiapkan cara mengajar model baru. Orang tua tidak siap menemani anak-anaknya belajar di rumah secara full time. Anak-anak serba salah menerima pembelajaran jarak jauh secara daring: hari ini apakah belajar dari rumah atau libur panjang? 

Bahkan, ketika situasi pandemi relatif membaik dan kemungkinan sekolah sudah bisa kembali untuk dibuka, tidak serta-merta juga membuat semua pihak bersorak gembira. Kebanyakan orang tua belum berani melepas anaknya kembali ke sekolah. Data hasil survei Dinas Pendidikan menunjukkan bahwa hampir semua sekolah belum merasa siap untuk melayani anak-anak belajar kembali di sekolah karena pertimbangan kesehatan. Proses pembelajaran dan pendidikan bukanlah hal yang sederhana meskipun itu merupakan sesuatu yang sangat rutin dalam keseharian kita karena dalam proses mulia ini, kita sedang membangun generasi selanjutnya.

Proses pembelajaran dan pendidikan sering dianalogikan sebagai proses menabur. Ada tiga unsur dalam proses menabur ini. Seorang penabur, benih-benih yang sudah dipersiapkan untuk ditaburkan, dan tanah garapan yang akan menerima dan memproses benih-benih yang diterimanya. 

Penabur sekalipun kaitannya dengan pembelajaran dan pendidikan tidak selalu harus dimonopoli oleh profesi guru. Memang benar tugas utama guru adalah mengajar. Namun, mengajar tidak hanya sekadar memberikan ilmu pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu adalah mengajarkan karakter-karakter yang baik. Dalam hal ini, seharusnya orang tualah yang bertindak sebagai penabur utama, guru pertama setiap anak. Dari sejak lahirnya, semua anak belajar dari orang tuanya. Mereka melihat dan mencontoh bagaimana sikap orang tuanya. 

Di samping itu, penabur adalah juga setiap kita yang dipandang oleh generasi di bawah kita. Seorang pemuda bisa menjadi penabur bagi adik remajanya. Demikian juga halnya, seorang atasan bisa menjadi penabur bagi bawahannya di kantor. Peran seorang penabur itu sangat luas, khususnya jika dalam radius kehidupan kita ada generasi lebih muda yang senantiasa mengarahkan pandangannya kepada kita. 

Menjadi penabur bukan hanya sebagai sebuah kewajiban, melainkan merupakan panggilan Allah. Allah mengajak kita menjadi rekan sekerjanya untuk menabur. Sebagai penabur bagi Allah, kita perlu memiliki mental seorang penabur. 

Pertama, fokus pada tugasnya, yaitu menabur menyaksikan kualitas hidup seorang pengikut Kristus bagi orang di sekitarnya, khususnya bagi mereka yang lebih kecil‒ dan bersaksi lewat kata dan perbuatannya. Dia tidak perlu cemas akan hasilnya, apakah akan menghasilkan buah atau tidak. Injil Matius 13: 1–9; 18–23 dalam perikop “Perumpamaan tentang seorang penabur” mengisahkan tentang Yesus yang mengibaratkan tiga macam tanah yang menerima benih dan hasilnya. Ketika sebagai penabur, kita sudah melakukan tugas kita dengan sebaik-baiknya sesuai pimpinan Roh Kudus, maka itu cukup. Akan seperti apa hasilnya, itu menjadi bagian dari Allah. 

Mental penabur yang kedua adalah sabar. Benih yang sudah ditabur pasti akan butuh waktu dan proses untuk berbuah. Kita tidak perlu memaksa untuk cepat-cepat berbuah. Sebaliknya, kita jangan juga menjadi patah semangat ketika hasilnya belum tampak (Yesaya 55: 10–13 dan Mazmur 65).

Benih-benih yang akan ditaburkan si penabur tentulah harus benih yang baik. Sebagai penabur di ladang Tuhan, kita harus yakin memiliki benih yang baik, benih yang berasal dari Tuhan. Dalam Roma 8: 1–11, kita bisa belajar bagaimana hidup dalam Roh. Hal ini yang akan menjamin bahwa benih yang akan kita taburkan adalah baik, benih yang berasal dari Roh Allah.

Tanah sebagai tempat yang akan kita taburkan benihnya bisa bermacam-macam modelnya, seperti juga yang telah diibaratkan Yesus dalam Injil Matius 13 tersebut. Anak-anak kita, baik di sekolah maupun di rumah, atau siapa pun generasi di bawah kita, masing-masing unik dengan segala keberadannya. Tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan. Di sinilah pentingnya mental seorang penabur sebagai rekan sekerja Allah karena kita sedang menaburkan benih sekaligus menggarap tanah, yaitu manusia dengan segala kompleksitasnya. 

Sebagai penabur-penabur di ladang Tuhan, kita diharapkan selalu siap sedia kapan pun dan di mana pun kita melakukan tugas panggilan kita, baik dalam kondisi normal maupun ketika dalam masa pandemi Covid-19 ini. Ketika kita bekerja di ladang Tuhan, kita tidak perlu bimbang memikirkan berbagai hal yang tidak bisa kita kendalikan. Sebaliknya, dengan teguh hati dan terus fokus untuk mempersiapkan diri sebab dengan pertolongan Roh Kudus, kita akan diperlengkapi dengan mental seorang penabur. Kita pasti dimampukan untuk menabur sehingga benih-benih kebaikan itu yaitu kebenaran, kasih, dan anugerah Allahakan selalu jatuh di tanah garapan kita yaitu anak-anak kita dan generasi penerus kita yang pada akhirnya akan menjadikan mereka sebagai berkat bagi kemuliaan nama Tuhan.

Mari menjadi penabur bersama Allah. Ia akan selalu menolong dan memampukan kita.

 Linda Silvana Pinontoan

 

____________

*ilustrasi : gardentech & desaseni
*ilustrasi cover : pexels.com

Berita Terkait