Mengenal virus COVID-19 Variant of Concern: Fakta, Gejala, dan Pencegahan

Mengenal virus COVID-19 Variant of Concern: Fakta, Gejala, dan Pencegahan

Seminar Kesehatan oleh dr. Lydia Tan, Sp.PD FINASIM

“Mengenal virus COVID-19 Variant of Concern: Fakta, Gejala, dan Pencegahan”

 

Pandemi sudah bermukim di Indonesia sejak tahun laluSayangnya, hingga saat ini, sepertinya belum ada tanda-tanda akan berakhir dan korban yang terpapar virus ini pun masih banyak sekali bahkjan justru semakin parah dalam satu bulan terakhir ini. Mengapa bisa seperti itu? Pertama, banyak orang yang masih belum percaya mengenai virus iniBahkan, orang yang sudah percaya pun masih tidak melakukan prokes dengan baik dan benar. Kedua, berkembangnya varian-varian baru yang menjadi perhatian kita.

merdeka.com

Pada  seminar kali ini, kita mendapat beberapa fakta mengenai Covid -19.

Fakta 1: COVID-19 adalah virus, bukan bakteri

Penyakit ini disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Mengapa hal ini begitu ditekankan? Karena banyak orang yang langsung membeli antibiotik, padahal antibiotik  tidak mempan terhadap virus. Virus yang menyebabkan penyakit ini disebut dengan Coronaviridae, artinya adalah virus yang bermahkota, berasal dari kata “corona”. Corona inilah yang menjadi penting sehingga dapat menyebabkan seseorang menjadi sakit. Jika virus ini tidak memiliki corona atau tidak punya mahkota, hal itu tidak akan membuat seseorang menjadi jatuh sakit. 

Lalu, mengapa dokter menyarankan antibiotik kalau ini bukan bakteri? 

Karena jika virus masuk ke dalam tubuh, biasanya bakteri tidak mau ketinggalan. Jadi, seringkali ditambahkan antibiotik untuk melawan bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Hal itu berfungsi untuk melawan infeksi sekundernya.

Fakta 2: COVID-19 sudah lama ada di bumi, seperti SARS dan MERS

Corona virus adalah panggilan untuk satu keluarga virus, yang sudah ada sejak lama dan kebanyakan terdapat pada hewan, beberapa di antaranya dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Human coronavirus sebenarnya sudah ada sejak lama. Bila terkena pada manusia akan menyebabkan flu ringan yang memang tidak ada obatnya. Namun, kalau daya tahan tubuh meningkat, virus tersebut akan hilang dengan sendirinya. 

Ada beberapa human coronavirus yang akhirnya menjadi berat gejalanya, seperti Severe Acute Respiratory Syndrome pada tahun 2003 yang sempat heboh di Singapura. Sementara itu, di Timur Tengah, pernah ada penyakit atau wabah, bernama MERS. 

Virus yang sekarang beredar mempunyai strain virus yang berbeda, yaitu SARS-COV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome). Strain virus ini sebelumnya tidak pernah ditemukan di manusia. 

Mengapa virus MERS dan SARS yang terjadi dulu tidak seheboh sekarang? 

1. Dipercaya, dulu virus COV yang ada di kelelawar berpindah dulu ke binatang lain sebelum berpindah ke manusia. Misal, dulu virus MERS berpindah ke unta terlebih dahulu sebelum masuk ke tubuh manusia. 

2. Untuk virus COVID-19, kita tidak tahu binatang perantaranya apa. Kita hanya tahu bahwa virus itu tiba-tiba muncul pada manusia. Hal itu semakin diperburuk dengan kenyataan bahwa virus ini bisa berpindah dari manusia ke manusia.  

3. Saking kecilnya virus COVID-19, dia tidak bisa dilihat oleh mikroskop biasa sekalipun dengan perbesaran paling besar. Di ujung satu helai rambut pada pasien COVID-19 kalau diperiksa dapat mengandung 100,000 virus. 

metro.tempo.co

Fakta 3 : Setiap outbreak pasti memunculkan varian baru 

Ada 11 varian virus corona yang baru yang sudah ada di dunia. Outbreak di India menghasilkan delta varian, sedangkan outbreak di Peru menghasilkan varian Lambda. Di Indonesia sendiri dapat dikatakan bahwa kita sedang mengalami outbreak. Dipercaya saat ini bahwa varian delta, dan juga varian Lambda, sudah masuk di Indonesia. Sekarang kita memasuki gelombang pertama, tapi di puncak dua dan tiga. Dari sejarah kita ketahui bahwa di puncak ini angka kematian akan meningkat dan Indonesia saat ini  termasuk negara nomor satu dengan kasus harian tertinggi di dunia. 

Kenapa muncul varian?

Mutasi adalah hal alamiah yang terjadi jika di dalam virus. 

Bagaimana virus dapat bermutasi? Saat virus menggandakan diri, istilahnya copy paste, seringkali dalam virus ada kesalahan copy. Jika anaknya salah copy, bisa jadi anak yang dihasilkan lemah dan tidak dapat bertahan, atau antibodi kita kuat untuk menahan hal tersebut. Namun, yang menjadi masalah adalah kalau anak-anakannya kuat. Hal ini akan menjadi varian virus yang baru. 

Delta dan Lambda 

Varian Delta:

1. Cepat berpindah dengan batuk atau  ngobrol biasa bisa dalam waktu 5 menit.

2. Cepat ambil alih jadi strain utama yang beredar dalam satu wilayah.

3. Unggul dalam bertahan hidup.

4. Komplikasi lebih parah,  harus dirawat di RS dan memperlukan suplementasi oksigen 

5. Gejala lebih parah dan menimbulkan komplikasi,  sering mengarah ke bagian pencernaan, yang orang anggap itu adalah penyakit tifus  atau  diare biasa. 

6. Transmibilitas: Perpindahan virus dari manusia ke manusia yang lain. Varian yang dulu butuh 30 menit untuk terpapar yang sekarang hanya butuh lima menit. Varian ini lebih cepat menular.

7. Severity: 30% lebih berat, unclear mechanism (karena virus baru). Lebih mampu infiltrasi atau menempel di organ target (hidung, mulut, paru-paru, usus) sehingga kerusakan lebih banyak.

8. Vaccine:  virus mampu mengelabui daya tahan tubuh atau vaksin. 

9. Diagnostik Test: mampu melewati dx testing (unread). Lebih kuat tidak bereaksi terhadap reagen. Antigen tidak berguna, harus PCR. Bahkan, PCR sendiri pun ada yang undetect, tetapi skor klinisnya tinggi, gambaran paru Covid.

Varian Lambda

Pertama kali ditemukan 17 Juni 2021

1. Merupakan gabungan dari beberapa virus Lebih mudah menular daripada Delta 

2. Terbukti ditemui di Peru pada Agustus 2020, dan Peru hampir habis. 82% kasus Covid-19 di Peru adalah varian lambda.

3. Diduga varian ini bisa menetralisir antibodi, termasuk vaksin.

4. Transmibilitas: lebih cepat menular.

5. Severity: diduga Lebih berat.

6. Vaksin: mampu mengelabui daya tahan tubuh sehingga tidak terdeteksi, harusnya antibodi memakan virus, tetapi kali ini dianggap “teman”.

7. Dx: Mampu melewati dx testing (tidak dapat terbaca). Lebih kuat dan lebih tidak bereaksi terhadap reagen.

detikNews - Wisma Atlet

Fakta 4  : Vaksin yang baik adalah vaksin yang ada saat ini di sekitar kita 

Vaksin COVID-19 yang dipakai di Indonesia

Sinovac virus sudah mati efikasi 65,3%

AZ  virus  dilemahkan karena itu KIPI lebih banyak  efikasi 70%. Menurut penelitian, mampu mengatasi virus delta maupun lambda 

Namun, apapun vaksinnya, yang penting saat ini kita harus mendapatkan vaksin dulu. 

Bila sudah terkena COVID-19, ambil vaksin lagi tiga bulan setelah dinyatakan negatif. 

Setiap orang memiliki respons yang berbeda terhadap COVID-19 dan tidak semua mengalami gejala yang sama. Sebagian besar yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Hanya 5 % gejala berat berada di ICU rumah sakit.

Bila kehilangan penciuman, biasanya onset sudah berada di tengah-tengah. Kalau diare saja, tetapi tidak mengalami gejala lain seperti batuk, pilek, hilang penciuman, bisa saja di tes positif. Di negara Tingkok sudah ada tes yang dicek dari anus, sedangkan di Indonesia baru hanya bisa dicek melalui hidung, tenggorokan, dan air liur.

anri

Kesimpulan: 

1. Melalui sejarah, tidak ada yang membunuh manusia sebanyak ini selain dari penyakit infeksi. 

2. COVID-19 menunjukkan betapa rapuhnya kita sebagai manusia.

3. Yang terpenting menunjukkan bagaimana kita dapat bertahan, hidup lebih baik dan berusaha menciptakan masa depan lebih baik dengan Prokes 6M yang dijalankan dengan patuh dan sadar.

 

Berikut beberapa pertanyaan yang diajukan oleh umat pada saat seminar. 

Q:         Bagaimana kita semua bisa berhasil di sini?

A:         Kalau kita sudah terinfeksi COVID, kita bisa terkena lagi. Setiap kali ada varian baru muncul, akan ada kesempatan kita terkena varian baru. Kalau ingin Indonesia bebas dari covid kita harus patuh dan sadar: 

1. PATUH : Patuh pada Prokes 6M

2. “Mencuci Tangan, Menjaga Jarak, Membatasi Mobilitas, Mendapatkan Vaksinasi, Menjauhi Kerumunan, Memakai Masker”

3. Mencuci Tangan: 1 menit di air mengalir pakai  sabun dengan 7 langkah , dan 30 detik  alkohol 70% dengan 7 langkah cuci tangan juga.

4. Menjaga Jarak: tertib terutama kalau melihat banyak kerumunan. Tetap prokes walau hanya bertemu abang grab. 

5. Membatasi Mobilitas: Kalau bisa online, semua dilakukan secara online. 

6. Vaksinasi: capaian saat ini masih jauh dan harus mencapai 80% agar kembali bisa new normal. 

7. Menjauhi kerumunan

8. Memakai masker yang sesuai standar.

Masker double dan tidak boleh single, berhubungan dengan tingkat penyaringan dari virus, jangan khawatir saturasi akan tetap baik. Kalau ada jambang atau jenggot lebih baik dipotong karena bisa ada gap.  memakai masker medis di dalam, dan kalau kita bicara, droplet bisa terserap. Jangan terbalik pakai masker medis. Kenapa tidak boleh terbalik? Bagian luar untuk menangkal cairan, bagian dalam untuk menangkap cairan. Lapis kedua silahkan pakai masker kain.

Cara melepas masker juga penting.

Harus pegang di tali masker. Jangan pegang di bagian tengah masker. Begitu pegang di tali, buka dan buang di tong sampah tertutup. Habis itu cuci tangan. 

SADAR: Sadar pada lingkungan. 

 

Kluster Keluarga. 

Varian Delta banyak pada kluster keluarga. Oleh karena itu, kita harus hati-hati dan sadar. Ada gejala sedikit saja entah itu pusing, meler, tenggorokan tidak enak, harus memisahkan diri dengan keluarga. Jangan lagi bareng-bareng makan bersama keluarga. Pisahkan diri setidaknya selama tiga hari. Lalu, lihat dan observasi. Jika gejala menetap maka segera lakukan PCR. Kalau isolasinya menunggu PCR dulu, nanti akan terlambat dan tidak sadar akan lingkungan. Kalau ada gejala, langsung isolasi, sekecil apapun itu. 

 

Q: Apakah Boleh tidak satu keluarga yang kena covid stay di kamar sendiri? 

A: Boleh, tapi sebaiknya punya di kamar masing-masing. Jika satu keluarga terkena covid-19 lebih baik lakukan self service. Misal, satu orang mandi dan makan di luar kamar, ketika sudah selesai dan masuk kamar, laporan melalui grup WA keluarga kalau dia sudah selesai melakukan urusannya dan ganti giliran dengan anggota keluarga lainnya. Sebaiknya, peralatan makan dan tempat mandi dipisah. Kalau mau lebih baik lagi, semua tempat yang dilalui oleh orang covid 19 itu disemprot desinfektan. 

Q: Kan anggota keluarga lain udah kena? Trus kenapa kita harus tetap melakukan hal tersebut?

A: Karena kalau dua orang kena covid, virus yang berjumpa bisa kawin dan terjadi strain baru. Itulah maka tidak mengherankan bila satu keluarga sudah bebas covid, bulan berikutnya mereka kena covid lagi dan bergejala.  

Q: Kalau tes PCR positif tapi sudah tidak bergejala?

A: Maka dapat dinyatakan sembuh cuma bagian-bagian virus masih terdeteksi dalam tubuh mereka. Kalau ada gejala dan PCR positif, berarti orang tersebut memang tertular lagi. 

Q: Bagaimana dengan memelihara hewan peliharaan?

A: Hewan dapat tertular COVID-19. 

Berita Terkait