NATAL DI TENGAH PANDEMI : ANTARA SELEBRASI & BERBAGI RUANG

Pengantar: Situasi Kita Berada
Pandemi COVID-19 telah memengaruhi agama dalam berbagai cara, seperti pembatalan ibadat berbagai keyakinan, termasuk dalam hal ini gereja, juga kegiatan persekutuan dalam berbagai lingkup kategorialnya. Banyak gereja (juga lembaga keagamaan lain) telah menawarkan ibadah melalui siaran digital (online) di tengah situasi pandemi COVID-19. Hal ini sejalan dengan berbagai pandangan bahwa hasil yang paling dramatis (dalam agama) adalah perpindahan yang sangat cepat, khususnya layanan keagamaan, dari yang tadinya ibadah secara langsung (onsite) menjadi tidak langsung (online). Padahal, selama hampir seratus tahun, gereja telah menggunakan berbagai metode komunikasi untuk menjangkau umatnya, seperti radio, televisi dan media online, tetapi tidak dapat maksimal dibanding situasi pandemi seperti yang terjadi saat ini. Pandemi seolah memaksa gereja keluar dari zona nyaman dan berupaya menjadi semakin kreatif untuk membawa Injil ke tengah kehidupan real umat. Disadari atau tidak, penghentian peribadahan dan berbagai bentuk persekutuan langsung adalah salah satu “gangguan” mendadak yang paling signifikan dalam praktik agama dalam sejarah kita. Majalah Time terbitan 28 Maret 2020 melaporkan bahwa layanan gereja drive-in di Amerika telah mencapai tingkat kehadiran yang tinggi dalam wabah COVID-19. Mengenai apakah krisis berdampak pada kehidupan religius pribadi jangka panjang, 19% orang Amerika mengatakan bahwa iman mereka telah diperkuat dan hanya 3% yang mengatakan bahwa itu semakin buruk. Boleh jadi apa yang terjadi di Amerika juga merefleksikan kondisi real di belahan dunia lain, termasuk Indonesia.
Karena pedoman jarak sosial, banyak gereja perlu menemukan alternatif untuk layanan gereja tatap muka yang normal dan telah beralih ke gereja digital. Pada hari Minggu Paskah, Paus Fransiskus menyiarkan langsung misa dari Basilika Santo Petrus yang kosong di Roma. Sementara itu, Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, menyiarkan khotbahnya dari dapur apartemennya di London. Demikian juga halnya sebagian gereja di Indonesia, termasuk di dalamnya GKI. Banyak gereja lokal di seluruh dunia mencari cara untuk mendigitalkan praktik gereja meskipun beberapa memperdebatkan bagaimana praktik liturgi tertentu dapat atau tidak dapat dilakukan secara daring.
Beberapa studi dalam teologi digital telah menyoroti peningkatan minat dalam menonton dan berpartisipasi dalam kebaktian gereja online di situasi lockdown. Interkonektivitas yang dipromosikan oleh teknologi digital telah membantu mempromosikan kemampuan individu untuk berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan meskipun ada jarak fisik, termasuk mereka yang sebelumnya mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di gereja. Namun, penelitian lain yang dilakukan oleh Barna Institute telah menyoroti bahwa orang Kristen yang secara teratur menghadiri kebaktian gereja fisik kurang tertarik untuk berpartisipasi secara online, terutama di kalangan milenial – sesuatu yang sangat ironi. Situasi semacam ini telah menjadi kenyataan baru dalam kehidupan bergereja. Belum lagi, kita menuju sebuah perayaan penting bagi kekristenan, yakni Natal.

Natal di Tengah Pandemi: Dari consumers ke communers
Situasi di atas menjadi semakin menantang saat kita berhadapan dengan kenyataan bahwa peristiwa Natal merupakan perayaan penting yang dinanti oleh semua umat Kristen di berbagai tempat. Natal merupakan kesempatan untuk berkumpul dan menikmati selebrasi, baik dalam gereja maupun keluarga. Situasi semakin menantang saat berkumpul, bersalaman, dan saling merangkul yang dapat saja menjadi “ancaman” dalam berbagai tradisi masing-masing keluarga.
Tidak hanya sampai di situ, hal yang paling mendasar kemudian adalah bagaimana kita mempersiapkan dan mengalami Natal dalam makna yang paling esensi dan hakiki. Tidak dapat disangkal, selama ini perayaan Natal kita, baik selaku gereja maupun keluarga/individu terjebak dalam pola konsumtif untuk sebuah selebrasi yang sifatnya materi. Orang menghabiskan banyak uang untuk menikmati perayaan Natal. Tidak sepenuhnya salah selama tidak melupakan hakikat Natal tentang solidaritas Allah bagi manusia, juga berbagi hidup kepada orang lain dalam rentang karya penyelamatan Allah itu.
Pandemi pada akhirnya mengajarkan dan mendorong kita untuk mengembalikan Natal sebagai perayaan keluarga (persekutuan) dalam arti yang luas. Sebuah selebrasi yang terlepas dari kecenderungan konsumtif berlebihan. Pandemi boleh jadi hanya mengubah packaging dan seharusnya bukan substansi dari Natal itu sendiri. Ia membawa kepada kita makna Natal yang sesungguhnya. Harapan yang dimunculkan dalam peristiwa Natal tidak akan pernah hilang atau berubah oleh keadaan apa pun. Damai, sukacita, harapan dan hidup yang dijaminkan senantiasa menjadi bagian yang indah dan kuat. Kenyamanan dan sukacita menyatukan harapan bahwa Natal akan membawa kegembiraan dan perayaan setelah tahun yang unik dan sulit dengan pengakuan bahwa –bagi mereka yang telah kehilangan orang yang dicintai atau mata pencaharian, atau yang berpotensi masih tidak dapat bersama dengan orang yang dicintai– peran kita adalah untuk memberikan penghiburan, penguatan, dan berbagi kehidupan daripada menganggap setiap orang akan siap untuk bergabung secara fisik dalam perayaan kegembiraan Natal.

Kita mungkin merasa kecewa. Mungkin ada banyak kekecewaan menyangkut ekspektasi yang terjadi di sekitar tahun ini. Meminjam istilah N. T. Wright dalam karyanya God and the Pandemic, boleh jadi kita menjalani tahun yang berat ini melalui “doa dan ratapan”. Kehadiran Tuhan mungkin saja kita pertanyakan saat krisis hidup menerpa. Dalam situasi seperti ini, ayat-ayat dalam Roma 5 muncul di benak saat kita secara bersama membantu orang-orang memproses rasa sakit yang mereka alami di sepanjang tahun ini. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5: 3-5). Bahkan, Tuhan “menggunakan” kekecewaan terkait dampak dari pandemi ini untuk membangun ketahanan, karakter, dan harapan dalam diri kita.
Pada Natal tahun ini, gereja (berarti juga kita) perlu menajamkan kembali kata-kata Rasul Paulus dalam Roma 12: 15 untuk “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis”. Kita merayakan secara bersama di satu tempat, tetapi juga merangkul komunitas yang lebih luas yang ingin bergabung dalam perayaan walaupun mungkin tidak mampu secara fisik –atau secara emosional– untuk melakukannya. Kenyamanan dan kegembiraan memungkinkan kita membangun semangat untuk terhubung kembali dengan tradisi masa lalu yang kaya dan gembira serta menawarkan kasih Tuhan yang menghibur pada masa yang sulit ini.
Saya masih saja tertarik dengan salah satu bab karya Greg Laurie dalam bukunya The upside down church. Salah satu bab buku itu diberi judul consumers or communers. Secara umum, consumers merujuk kepada orang yang datang ke gereja bagaikan pusat perbelanjaan. Mereka hanya mencari yang dibutuhkan lalu pulang. Mereka tidak peduli apa yang terjadi dengan gereja itu. Di sisi lain, communers merujuk pada orang yang mau terlibat, peduli, dan mengambil tanggung jawab dalam bertumbuh. Mereka ikut ambil bagian dalam mengembangkan persekutuan umat. Mereka yang termasuk dalam kategori communers tidak berorientasi pada “apa yang saya cari dan dapatkan”, melainkan terutama kepada “apa yang dapat saya lakukan dan berikan”.
Jika selama ini perayaan-perayaan Natal kita terjebak sebagai para consumers yang menikmati dan mengonsumsi “produk-produk” ritual gereja dan memanjakan mata dengan berbagai tampilan dan “pertunjukan” ritual, tahun ini kita ditarik kepada inti persekutuan kita sebagai communers. Membangun persekutuan bersama mereka yang berjuang dan bergumul melalui masa-masa sulit ini. Menjadikan keluarga dan gereja kita sebagai persekutuan yang memulihkan (healing community). Dengan begitu, perayaan Natal kita menjadi sebuah selebrasi pemulihan sebagai persekutuan yang didasarkan pada kasih Tuhan yang tidak terbatas. Semua ini menegaskan kerinduan kita untuk berbagi ruang bersama mereka yang sungguh membutuhkan cinta kasih. Jika selama ini ruang hidup kita disesaki oleh berbagai persiapan konsumtif belaka, sekarang ruang hidup ini menjadi sarana untuk berbagi dan saling menguatkan.

Pada akhirnya, Natal tahun ini benar-benar membawa kita ke hati, ke keluarga, tempat Natal itu dirayakan pada mulanya. Natal di tengah pandemi memang berubah. Namun, perubahan itu membawa kepada kita Natal dalam arti yang murni dan seharusnya. Pada titik inilah perjumpaan dengan Tuhan (melalui wajah sesama) menjadi sesuatu yang nyata. Dengan begitu, fokus kita tidak lagi melihat ke belakang untuk menemukan alasan mengapa sesuatu mungkin terjadi (meskipun dalam beberapa kasus kita harus mempertimbangkannya). Sebaliknya, fokus kita ke depan adalah pada apa yang dapat dilakukan tentang situasi kita pada masa sekarang. Apa yang sedang Tuhan lakukan dan apa yang harus kita kerjakan.
Semoga tahun yang sulit di tengah perjuangan kita karena pandemi ini tidak merampas sukacita dan kegembiraan Natal kita!
Pdt. Semuel Akihary
___
ilustrasi foto : shopify.com, mashtrello.com, pushpay.com, crosswalk.com
