Reframing Your Life In Christ

Reframing Your Life In Christ

“REFRAMING YOUR LIFE IN CHRIST”

 

Latar Belakang:

Pandemi Covid-19 telah mengubah cara pandang semua orang akan kesempatan, waktu, uang, dlsb. Hal-hal yang dulu dapat dimungkinkan dengan adanya “uang” menjadi tidak berarti karena ternyata uang tidak dapat “membeli” perawatan di Rumah Sakit, travelling karena banyak negara tidak memperbolehkan kunjungan wisata, ataupun waktu dimana beberapa dari kita kehilangan kesempatan untuk dapat lagi bertemu dengan orang yang dikasihi.

Pada saat yang bersamaan dengan dampak psikologis di atas, Covid-19 juga membawa dampak “fisik” dan “psikis” dikarenakan perubahan tatanan kehidupan karena “New Normal” seperti berikut: (i) pertemuan
“virtual” menjadi hal yang dapat diterima, baik untuk pertemuan ibadah, persekutuan doa, pemahaman Alkitab, dsb; (ii) beberapa perusahaan melakukan pengurangan jumlah karyawan, baik dalam bentuk unpaid leave, pengurangan jam kantor, ataupun PHK. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pada sejumlah orang atas kecukupan hidupnya maupun keluarganya untuk makan, sekolah, dll; (iii) kebiasaan baru untuk menjaga jarak, memakai masker, face shield, menjauhi kerumunan menjadi hal yang perlu dituruti. Akan tetapi banyak yang akhirnya menjadi takut dan khawatir akan kelangsungan hidupnya.

Camp GSM kali ini dilakukan secara virtual. Ini sebuah kenyataan yang harus kita terima (suka ataupun tidak). Tekhnologi harus menjadi sahabat bagi kita. Inilah dampak dari Pandemi Covid-19, yang “memaksa” kita untuk melakukan Reframing dan Restructuring.

Apa itu “Reframing”? Reframing adalah metode yang membantu seseorang untuk melihat sebuah keadaan dengan cara berbeda sehingga dapat memberi respons terbaik. Mengapa reframing begitu diperlukan? Reframing yang adalah upaya membingkai ulang sebuah kejadian dengan mengubah sudut pandang tanpa mengubah kejadian, merupakan aplikasi yang dapat kita terapkan dalam berbagai sisi kehidupan.

Di tengah pandemi Covid-19 ini kita mengalami banyak kejadian yang mencekam, menakutkan karena disrupsi yang begitu radikal. Seluruh tatangan kehidupan ini seolah tercabut dari akarnya dan membuat banyak orang mengalami trauma, ketakutan yang lebih menguasai daripada harapan, hidup menjadi tidak berdaya. Inilah realita yang tidak bisa kita cegah, tetapi dapat kita kendalikan yaitu dengan memberikan makna baru pada kejadian tersebut.

Ini juga pernah terjadi pada Thomas Alva Edison, ketika laboratoriumnya terbakar. Teman-temannya menyesali kejadian itu, namun ada kalimat yang menarik yang diucapkan oleh Eddison “Tidak apa-apa, dengan terbakarnya labku, maka kesalahan dan kekeliruan saya juga dibakar. Sekarang saya punya kesempatan untuk memikirkan ulang dengan cara yang lebiuh baik” Nah, apa yang dilakukan oleh Eddison ini dapat digolongkan sebagai kemampuan untuk melakukan reframing. Dalam Alkitab, kita juga dapat menemukan hal ini melalui tokoh seorang bernama Ayub. Ia telah kehilangan hartanya, anak-anaknya, bahkan dicibir oleh teman-temannya yang mengatakan bahwa Ayub berdosa. Namun ketika kita melihat dalam Ayub 42:5, “hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. Apa yang diucapkan oleh Ayub ini dapat digolongkan sebagai kemampuan melakukan reframing.

Lalu, bagaimana melakukan reframing dalam dunia NLP (Neuro Lingustic Programming)? Dikenal 2 teknik dalam melakukan reframing: Teknik yang pertama disebut dengan Content Reframing, yaitu dengan mengajak orang melihat sesuatu yang terjadi dengan perspektif dan sudut pandang yang berbeda. Teknik yang kedua adalah Context Reframing, yaitu mengajak orang untuk melihat peristiwa yang terjadi dari sudut pandang waktu yang berbeda. Orang itu diajak untuk melihat perspektif waktu di masa depan sehingga maknanya berubah menjadi bermanfaat.   

Apa itu “Restructuring”? Restructuring adalah pengaturan ulang struktur organisasi agar dapat beradaptasi dengan perubahan. Guru Sekolah Minggu harus melakukan pembenahan organisasi, karena saat ini kita sudah berada dalam situasi yang serba virtual, yang tidak memerlukan kehadiran fisik seperti sebelum pandemi Covid-19. Namun bukan berarti peran GSM tidak dibutuhkan, sebab GSM tetap menjadi gembala bagi anak-anak Sekolah Minggu.

Reskilling? Upaya untuk meningkatkan kemampuan, sehingga GSM memiliki kualitas dalam mengimplementasikan penerapan pengajaran secara digital. Sebab ASM saat ini sudah masuk pada era 4.0. Kompetensi yang dimiliki GSM harus mengimbangi kebutuhan tersebut.

Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Komentar