PUJIAN UNTUK MENCERITAKAN PERBUATAN-NYA YANG AJAIB
Mazmur 22: 3 mengatakan “padahal Engkaulah Yang kudus, yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel”. Ayat ini sungguh melukiskan betapa Tuhan berkenan atas puji-pujian yang dinaikkan oleh umat-Nya. Ia mau agar kita “memperdengarkan nyanyian syukur dengan nyaring dan menceritakan segala perbuatan-Nya yang ajaib” (Mazmur 26: 7). Tuhan sendirilah yang “memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan” (Mazmur 40: 3). Bahkan dalam situasi pandemi saat ini, Tuhan ingin mendengarkan pujian kita, seperti tertulis dalam Mazmur 27: 6 “maka sekarang tegaklah kepalaku, mengatasi musuhku sekeliling aku; dalam kemah-Nya aku mau mempersembahkan korban dengan sorak-sorai; aku mau menyanyi dan bermazmur bagi Tuhan”.
Ada begitu banyak Nyanyian Mazmur yang dapat memberi kekuatan dalam menghadapi hari-hari ini. Bahkan, masih ada banyak lagu pujian lainnya yang dapat menerangi langkah kita untuk berjalan bersama Tuhan setiap waktu. “Banyak hal tak kufahami dalam masa menjelang, tapi t’rang bagiku ini, tangan Tuhan yang pegang” (NKB 49). Ia tidak pernah meninggalkan kita dan kita dapat terus berpegang pada janji-Nya, yaitu“janji yang manis: Kau tak Kulupakan, tak terombang-ambing lagi jiwaku” (PKJ 165). Satu lagi janji Tuhan yang menguatkan kita, yaitu “Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti, satu hal tanamkan di hati, indah semua yang Tuhan b’ri”.
Penyertaan Tuhan sangat nyata bagi penulis dalam masa-masa pandemi ini. Pada situasi yang tampak berat, justru kuasa Tuhan bekerja menghadirkan damai sejahtera yang melampaui akal pikiran manusia (Filipi 4: 7). Kedamaian ini bukanlah tanpa rasa takut dan gelisah. Sebaliknya, kedamaian ini memberi kekuatan untuk dapat melalui setiap tantangan kehidupan, khususnya ketika penulis harus terbang dari Surabaya ke Jakarta untuk ikut merawat papa yang sakit sejak awal Maret 2020. Kesulitan untuk mendapatkan rumah sakit ternyata adalah jalan Tuhan untuk menyelamatkan papa yang akhirnya dirawat isolasi mandiri di rumah. Hanya karena anugerah-Nya, papa bisa sembuh sebulan kemudian.
debmillswriter
Pada saat inilah, pertama kalinya penulis belajar untuk mulai menyanyikan pujian setiap pagi ketika berdoa dan mengangkat tangan di depan rumah, memohon pertolongan Tuhan dalam melewati kesesakan dan mengusir segala roh jahat yang mengganggu pikiran. Mukjizat Tuhan kembali dinyatakan ketika 10 minggu kemudian, penulis bisa pulang kembali ke Surabaya (yang juga sudah menjadi red zone saat itu) dalam kondisi sehat. Selama melewati perjalanan ini, Tuhan memampukan penulis untuk tetap berkarya dan bahkan berinovasi dalam pekerjaan bermusik. Tidak pernah terpikirkan bahwa lewat media sosial, YouTube, penulis memiliki kesempatan untuk menceritakan karya ajaib Tuhan melalui permainan musik dan pujian bersama teman-teman. Berikut ini link YouTube yang bisa dibagikan untuk saling menguatkan:
https://www.youtube.com/channel/UCmPJZrjLx93lsxLTnwdzx5g?view_as=subscriber.
Sebuah pujian yang juga sangat menguatkan adalah “Waktu Tuhan pasti yang terbaik, walau kadang tak mudah dimengerti, lewati cobaan kutetap percaya waktu Tuhan pasti yang terbaik”. Mudah untuk mengatakannya ketika cerita kehidupan sudah menjadi indah pada akhirnya. Namun, ketika kita berada di bagian tengah cerita, sumber pengharapan kita hanyalah BERPEGANG pada janji Tuhan, terus MENGUCAP SYUKUR, dan tak berhenti BEKERJA BAGI TUHAN, seperti lirik sebuah lagu: “Jangan lelah, bekerja di lading-Nya Tuhan, Roh Kudus yang b’ri kekuatan, yang mengajar dan menopang”. Pada masa pandemi ini, ada banyak berkat Tuhan yang selama ini tidak kita sadari (take it for granted). Tuhan mau membukakan mata kita untuk melihat karya-Nya yang agung. Kehadiran keluarga, pemenuhan kebutuhan dasar (sandang, pangan, dan papan), ketersediaan internet dan teknologi untuk kita dapat belajar, berkomunikasi, dan bekerja dari rumah, adalah ANUGERAH TUHAN yang harus terus kita syukuri. Sebagai anak Tuhan, kita adalah warga kerajaan Allah, yang dipilih-Nya dan ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (Roma 8: 29).
Pandemi ini adalah kesempatan kita untuk berubah dan dibaharui dalam segala aspek untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Mari penuhi hati kita dengan Roh-Nya dan terus menaikkan puji-pujian untuk kemuliaan-Nya.
Christina Mandasari, M.Mus

JohnnyTib
https://www.schuylersampertontextiles.com/press/los-angeles-times-shopping-with-schuyler-samperton-for-textiles-to-use-in-unexpected-ways/#main/#comment-462110