TERUS BELAJAR

TERUS BELAJAR

Katekisasi berasal dari bahasa Yunani katekese” yang artinya meneriakkan di telinga terus-menerus – dalam kaitannya dengan proses pengajaran atau pendidikan. Artinya, membimbing orang supaya melakukan apa yang diajarkan. Singkatnya, katekisasi adalah pendidikan iman dan ajaran tentang pokok-pokok iman kristen untuk mempersiapkan katekisan menjadi anggota SIDI yang memahami dan melaksanakan tugas panggilannya dalam kehidupannya secara utuh. 

Di dalam kondisi pandemi yang sekarang masih berlangsung, tentunya tidak membuat kita berhenti untuk belajar. Kondisi ini membuat kita, secara khusus gereja, melakukan langkah strategis agar apa yang menjadi tugas panggilan sebagai gereja, yaitu mewartakan Injil dapat terus berlangsung. Artinya, kondisi yang sulit sekalipun tidak membuat kita berhenti belajar dan berjumpa dengan Tuhan. Hal ini juga yang terjadi pada kelas katekisasi yang terjadi pada tahun 2020 ini. 

Perjalanan kelas katekisasi kali ini terbilang cukup unik. Mengapa unik? Pertama, karena hampir semua kelas katekisasiyang berlangsung kali ini terjadi secara online, hanya dua kali pertemuan onsite di gereja, yakni pada bulan Maret lalu,sebelum terjadinya pandemi. Selama pandemi ini, katekisasi dilaksanakan setiap Jumat pukul 19.00 WIB dengan menggunakan media seperti Google Meet, sebelum beralih sepenuhnya kepada aplikasi Zoom. Memang, kendalanya adalah jaringan internet yang terkadang putus-nyambung. Namun, hal itu pun tidak menyurutkan semangat katekisan untuk terus belajar mengikuti katekisasi. Bahkan, mereka justru turut ambil bagian untuk menjalani protokol kesehatan dengan belajar dari rumah. 

Keunikan yang kedua adalah kelas ini terdiri dari beragam usia, dari usia remaja sampai dengan usinda. Ini merupakan sebuah tantangan karena bahasa yang akan disampaikan harus dapat dimengerti oleh setiap generasi yang ada. Di dalam diskusi kelompok atau mengerjakan tugas rumah secara berkelompok, ternyata antargenerasi ini bisa saling belajar dan saling melengkapi satu dengan yang lain. 

Memang benar bahwa gereja itu bukanlah gedungnya, melainkan orang-orangnya. Dalam masa pandemi ini, hal ini semakin terasa bahwa persekutuan kita kepada Allah tidak hanya terjadi di dalam gedung gereja. Teringat pada surat 1 Petrus 2: 9 “tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” Oleh karena itu, kita yang sudah dipanggil keluar dari kegelapan menuju kepada terang,tidak boleh berhenti untuk terus belajar dan mengenal Tuhan Sang Pemilik hidup kita, bagaimana pun caranya. Sebagai orang pilihan dan dikuduskan oleh Allah, kita mempunyai tugas untuk terus mewartakan-Nya dengan cara-cara yang kreatif, terlebih pada era perubahan saat ini. Untuk mewartakan Dia, diperlukan upaya yang tak henti dalam beriman dan terus belajar mengenal kehendak-Nya. Kita wajib bersyukur kepada Tuhan Yesus yang turut menyertai perjalanan katekisasi kali ini hingga sampai selesai. Jika bukan karena kasih karunia-Nya, kita pasti tidak dapat melakukannya. Kita juga turut berdoa agar pelaksanaan Sakramen Baptis Kudus Dewasa dan Sidi serta penerimaan anggota dapat berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, yakni pada Minggu, 06 Desember 2020 yang akan datang. Terpujilah Yesus Kristus untuk selama-lamanya. 

Kelas katekisasi memang telah berakhir, tetapi pengenalan akan Tuhan dan firman-Nya sudah seharusnya kita lakukan dalam sepanjang hidup kita. Kiranya Tuhan memberikan kita keinginan untuk terus belajar agar semakin bertumbuh dan dekat kepada-Nya setiap hari. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Pdt. Naya W. Sudharmo

 

___

ilustrasi foto : Rebruth

Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Komentar